Mencintai adalah sebuah anugerah, tapi apa bila seseorang yang kita cintai tak membalas maka hanya akan berakhir sakit.
Seperti halnya aku. Aku akhir-akhir ini tengah berusaha sekuat hati untuk mencoba melupakan mantan kekasihku. Baru beberapa minggu dia putuskan cintaku. Layaknya gadis-gadis seusiaku, saat putus cinta tentu saja hanya bisa menangis, menyesali, dll.
"Ara,,tadi Paman Roni menelfon,katanya dia mengundangmu untuk berlibur dirumah barunya. Apa kau mau?" tanya ibuku.
Aku berfikir sebentar lalu berkata "Tentu buk,,dengan begitu pasti disana menyenangkan" . Mungkin dengan sedikit refreshing aku akan bisa melupakan seseorang yang kini telah mengacaukan hatiku ini.
*****
Pagi-pagi sekali Paman Roni sudah menjemputku. Untungnya aku sudah siap, jadi tinggal angkut dan berangkat.
Baru setengah perjalanan, tiba-tiba Paman Roni membelokkan kendaraannya ke sebuah jalan, masuk ke sebuah gerbang rumah. Rumah yang tak asing olehku. Ini kan rumahnya . . . . . . . .
*****
Aku mulai merengut,, "kenapa kita kemari??" . "Aldo bilang dia juga mau ikut,,kita kemari yaa untuk jemput sii aldo. Bukankah kau senang?" .
Uuuuu Paman Roni tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi diantara kami =="
Aku sekilas melihat raut wajah aldo yang memerah. Mungkin kaget dengan adanya aku. Dan mungkin juga dia merasakan apa yang sekarang aku rasakan.
Setelah perjalanan yang sangat amat jauh sekali . . . tibalah kami di sebuah rumah dipinggiran kota Semarang. Ada halaman yang begitu luasnya,,ada kolam renang yang begitu menawarkan aku untuk cepat berenanng didalamnya,,dan ada taman kecil untuk merefreshkan otak ketika suntuk, yaa semua yang aku bayangkan memang tersedia disini. Disini sangat nyaman, tapi lebih nyaman dan akan lebih indah jika tidak ada Aldo. Bagaimana aku akan lupa jika selama liburan disini aku harus satu atap dengannya.
*****
3,4,5 hari berlalu begitu saja, dan selama itu pula aku dan aldo tidang saling bersapa. Hingga pada suatu senja yang hangat dihiasi sinar sunset yang begitu indah, pada saat itu pula Aldo menghampiriku dan menanyakan kabarku,
"haii,,apa kabar?"
"hmmppttt,,baik . . kamu?"
"yahhh seperti yang kamu lihat saat ini . . ."
Dia kemudian duduk disampingku. Dan kami ngobrol,menghabiskan waktu senja itu dengan penuh canda dan tawa. Aku merasa seperti kembali mengenalnya seperti waktu dulu aku bertemu dengannya. Dia ramah,,ceria,,humoris,,perhatian. Itu yang membuat aku susah lupa.
*****
Hari ke 6, kami kembali akrab, kini aku merasa kembali seperti saat dulu bersamanya. Dan dia seakan memberiku sebuah harapan. Harapan untuk kembali padanya. Jikalau itu bukan hanya sekedar harapan, aku ingin kembali padanya, aku ingin bilang aku masih mencintainya, karena aku merasa nyaman bila disampingnya. Itu yang aku rasakan saat ini.
*****
Hari ke 7, aku tau besok adalah hari ulang tahun Aldo jadi, aku sudah mempersiapkan kado untuknya sudah jauh jauh hari sebelum kami putus dan kebetulan sekali aku bawa saat kami pun berlibur bersama satu atap rumah selama ini. Aku harap dia suka. Hanya ini yang bisa aku berikan. Tapi, besok juga hari terakhirku ditempat ini. Tempat ini sudah menjadi surga. Surga yang mempertemukan aku dan malaikatku.
*****
Pukul 00.02, aku mencoba tetap terjaga. Tentunya agar dapat jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Aldo . . .
Aku keluar kamarku dengan mengendap-endap menuju kekamar Aldo. Tiba-tiba sesuatu menahanku untuk masuk. Dengan tangan masih memegangi gagang pintu kamarnya aku mencoba menangkap suara percakapan telefon antara Aldo dengan seseorang. Seseoranng yang dia panggil "adek manis"
"Selamat ulang tahun sayang,,aku sayang kamu,,muuuuaaachh" kata seseorang itu ditelfon.
"iya makasih adek manis,,kamu orang pertama yang memberi selamat". Jawab Aldo
Mataku memerah, butir-butir air mata menetes tiada terbendung lagi. Aku berlari sekencang-kencangnya,menuruni tangga,,keluar rumah,,halaman,,dan melewati luasnya taman. Aku tak dapat berfikir lagi, yang ada dibenakku sekarang adalah aku harus menjauh dari tempat tadi, sejauh mungkin.
Nafasku tersenggal-senggal dan jalanku mulai sempoyongan. aku tetap berlari-berlari hingga pada akhirnya aku berhenti pada suatu pohon. Kado ulang tahun untuk Aldo yang sedari tadi aku bawa berlari aku lemparkan kesungai. biarlah hanyut bersama harapan kosongku.
"kenapa dibuang?bukankah kado itu untukku?" suara yang mengagetkanku. Aldo,,dia sudah berada dibelakangku.
"bukan !!! itu tak penting lagi untukmu" jawabku singkat. Tak ku perdulikan panggilan-panggilannya dan aku terus berlari meninggalkannya. Kali ini aku merasa sangat sakit.
Brrruuuuuuuuuuuuuaaaakkkkkkkkk . .. . .. aku membanting pintu kamarku. Ku jatuhkan tubuhku dikasur dan kututupi wajahku dengan bantal. Aku ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya.
*****
"Anak-anak, sudah waktunya pulang . . . terimakasih sudah mau menginap" Paman Roni menyambut pagi ini dengan suaranya yang menggelegar.
Sebelum keluar kamar ku sempatkan menengok ke jendela sebentar.Dan ku lihat Aldo tengah asik BBMan dengan kekasih barunya mungkin. Dan aku yang malang ini akan tetap dan terus menjaga serpihan hatiku yang masih tersisa untuknya.
*****
===> Cinta yang sebenarnya adalah ketika kita meneteskan airmata, dan dia tidak lagi perduli , , , adalah ketika dia melupakan kita, tapi kita masih setia menunggunya.
Aku mulai merengut,, "kenapa kita kemari??" . "Aldo bilang dia juga mau ikut,,kita kemari yaa untuk jemput sii aldo. Bukankah kau senang?" .
Uuuuu Paman Roni tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi diantara kami =="
Aku sekilas melihat raut wajah aldo yang memerah. Mungkin kaget dengan adanya aku. Dan mungkin juga dia merasakan apa yang sekarang aku rasakan.
Setelah perjalanan yang sangat amat jauh sekali . . . tibalah kami di sebuah rumah dipinggiran kota Semarang. Ada halaman yang begitu luasnya,,ada kolam renang yang begitu menawarkan aku untuk cepat berenanng didalamnya,,dan ada taman kecil untuk merefreshkan otak ketika suntuk, yaa semua yang aku bayangkan memang tersedia disini. Disini sangat nyaman, tapi lebih nyaman dan akan lebih indah jika tidak ada Aldo. Bagaimana aku akan lupa jika selama liburan disini aku harus satu atap dengannya.
*****
3,4,5 hari berlalu begitu saja, dan selama itu pula aku dan aldo tidang saling bersapa. Hingga pada suatu senja yang hangat dihiasi sinar sunset yang begitu indah, pada saat itu pula Aldo menghampiriku dan menanyakan kabarku,
"haii,,apa kabar?"
"hmmppttt,,baik . . kamu?"
"yahhh seperti yang kamu lihat saat ini . . ."
Dia kemudian duduk disampingku. Dan kami ngobrol,menghabiskan waktu senja itu dengan penuh canda dan tawa. Aku merasa seperti kembali mengenalnya seperti waktu dulu aku bertemu dengannya. Dia ramah,,ceria,,humoris,,perhatian. Itu yang membuat aku susah lupa.
*****
Hari ke 6, kami kembali akrab, kini aku merasa kembali seperti saat dulu bersamanya. Dan dia seakan memberiku sebuah harapan. Harapan untuk kembali padanya. Jikalau itu bukan hanya sekedar harapan, aku ingin kembali padanya, aku ingin bilang aku masih mencintainya, karena aku merasa nyaman bila disampingnya. Itu yang aku rasakan saat ini.
*****
Hari ke 7, aku tau besok adalah hari ulang tahun Aldo jadi, aku sudah mempersiapkan kado untuknya sudah jauh jauh hari sebelum kami putus dan kebetulan sekali aku bawa saat kami pun berlibur bersama satu atap rumah selama ini. Aku harap dia suka. Hanya ini yang bisa aku berikan. Tapi, besok juga hari terakhirku ditempat ini. Tempat ini sudah menjadi surga. Surga yang mempertemukan aku dan malaikatku.
*****
Pukul 00.02, aku mencoba tetap terjaga. Tentunya agar dapat jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Aldo . . .
Aku keluar kamarku dengan mengendap-endap menuju kekamar Aldo. Tiba-tiba sesuatu menahanku untuk masuk. Dengan tangan masih memegangi gagang pintu kamarnya aku mencoba menangkap suara percakapan telefon antara Aldo dengan seseorang. Seseoranng yang dia panggil "adek manis"
"Selamat ulang tahun sayang,,aku sayang kamu,,muuuuaaachh" kata seseorang itu ditelfon.
"iya makasih adek manis,,kamu orang pertama yang memberi selamat". Jawab Aldo
Mataku memerah, butir-butir air mata menetes tiada terbendung lagi. Aku berlari sekencang-kencangnya,menuruni tangga,,keluar rumah,,halaman,,dan melewati luasnya taman. Aku tak dapat berfikir lagi, yang ada dibenakku sekarang adalah aku harus menjauh dari tempat tadi, sejauh mungkin.
Nafasku tersenggal-senggal dan jalanku mulai sempoyongan. aku tetap berlari-berlari hingga pada akhirnya aku berhenti pada suatu pohon. Kado ulang tahun untuk Aldo yang sedari tadi aku bawa berlari aku lemparkan kesungai. biarlah hanyut bersama harapan kosongku.
"kenapa dibuang?bukankah kado itu untukku?" suara yang mengagetkanku. Aldo,,dia sudah berada dibelakangku.
"bukan !!! itu tak penting lagi untukmu" jawabku singkat. Tak ku perdulikan panggilan-panggilannya dan aku terus berlari meninggalkannya. Kali ini aku merasa sangat sakit.
Brrruuuuuuuuuuuuuaaaakkkkkkkkk . .. . .. aku membanting pintu kamarku. Ku jatuhkan tubuhku dikasur dan kututupi wajahku dengan bantal. Aku ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya.
*****
"Anak-anak, sudah waktunya pulang . . . terimakasih sudah mau menginap" Paman Roni menyambut pagi ini dengan suaranya yang menggelegar.
Sebelum keluar kamar ku sempatkan menengok ke jendela sebentar.Dan ku lihat Aldo tengah asik BBMan dengan kekasih barunya mungkin. Dan aku yang malang ini akan tetap dan terus menjaga serpihan hatiku yang masih tersisa untuknya.
*****
===> Cinta yang sebenarnya adalah ketika kita meneteskan airmata, dan dia tidak lagi perduli , , , adalah ketika dia melupakan kita, tapi kita masih setia menunggunya.
No comments:
Post a Comment